Kamis, 25 Desember 2008

Lagi-Lagi kejadian

Entah apa yang ada dibenak dan dipikiran orang Indonesia. Lelah terkadang bila dihadapkan dengan berita- berita kericuhan di sana sini. Entah itu politik, entah itu sosial, entah itu hiburan, entah itu olahraga, dan lain sebagainya. Semua seperti ingin menjadi pahlawan, mencari kebenaran dalam pembenaran, mencari kesalahan obyek dan subyek tertentu. Padahal, semuanya hanya bernuansa kepentingan tertentu.

Lihat kehidupan sosial kita, kericuhan saat pembagian sembako pada hari Natal di kota Medan dan kota Solo kemaren. Seolah bagaikan sebuah flashback bagi kita mengenai kericuhan saat pembagian uang zakat di bulan Puasa beberapa bulan lalu di Jawa Timur yang hingga mengakibatkan beberapa orang tewas ditempat. Dengan alasan takut tidak ke bagian sembako, tidak kebagian uang yang tak seberapa besar, lantas berdesak-desakan sampai terjatuh, terinjak-injak yang lain, terus pingsan dan kehabisan udara hingga kematian mengancam.

Untung saja pas pembagian sembako Natal kemaren tidak ada yang meninggal, coba saja kalo ada, efeknya akan sangat besar seperti:

  • Pertama, sudah jelas keluarga si korban akan merasa kehilangan,

  • Kedua, efeknya terhadap orang lain. Pihak panitia dianggap telah lalai, pihak panitia belum mendapatkan ijin ini-itu, ujung-ujungnya panitia ditetapkan sebagai tersangka.

Alangkah indahnya, jika kita saling bersabar untuk mengantri pembagian sembako tersebut, namun apabila dalam pembagian itu tidak mendapatkannya, mau tak mau dibutuhkan kebesaran hati dan sikap lapang dada.

Alih-alih hidup dalam kemiskinan menjadi trend tersendiri, sehingga untuk mendapatkan sesuatu dengan berbagai cara. Tidak ada salahnya jika kita berpikir jernih, tidak hanya memikirkan materi saja. Kita hidup sudah, namun ada baiknya jangan dibikin susah lagi, minimal tidak menyusahkan diri kita sendiri dan orang lain.

Kalo bukan dimulai dari diri kita sendiri, siapa lagi yang akan memulainya????

Senin, 22 Desember 2008

Tengah Malam

satu-dua detik pergi berlalu
di kesunyian hatiku
dan jiwa melukis rona rupa
menggeliatkan rindu seketika

lalu waktu menikamku
menyelimuti segenap sadar sia-sia
kugapai dan tenggelamku
dalam kehampaan menggelepar
detik kesunyian terangkai
semakin memanjang...

Seberapa Penting Kekuatan Visi dan Misi

Dalam setiap aspek kehidupan manusia tentunya takkan terlepas dari rintangan dan tantangan. Baik dari luar maupun dari dalam diri manusia itu sendiri.

Minggu, 21 Desember 2008

Menatap Nirwana, Mentahbiskan Indera

Buka mata, buka hati. Alam tak sekedar inspirator estetika, alam tak hanya untuk dinikmati. Alam ditempatkan sebagai spiritualis dan orientasi ekspresi pemujaan. Bisikannya adalah pelajaran terbaik tentang hakikat diri.


Bukan senja yang tenggelam mengaburkan mataku. Tetapi, bayangan masa silam menatapku tiba-tiba. Dari tepian desa aku menatap dan tersandar ke tebing tak kukenal. Lidah kurasa getir menggigil nafasmu, letih jari-jemari menggenggam kenyataan, kutakkan ingkar artimu padaku. Cahaya terbersit dimataku. Cair dalam pergulatan yang menggetarkan rambut mata. Dalam kenangan yang berhak dikenang. Bila ada saat kemudian berpisah. Bukan karena apa.


Dahaga menagih coklatnya air sungai dan rawa-rawa. Rindu merisau keheningan pepohonan di lereng-lereng. Nafasku ini bertemu nafasmu di rerumpun bambu. Usia kini yang mengantar ke satu titik, bisa merasakan adanya pecahan-pecahan kecil yang bertebaran di kehidupan luas. Sampai di tempat aku bersandar, menatap mesra sambil menerima dengan kedua tanganku. Sudi memilihkan tempat dalam jiwaku dan menyediakan sebait-sebait nyanyian bersahaja.


Usia kini pula yang membawa diriku berpaling, melongok ke satu lorong dimana kesahihan tergapai. Dan menghidupkan romansa insani dalam satu bentuk yang paling sederhana, karena terkubur oleh zaman. Belum semusim berselang lampau, sungai di matanya mengalir kemerahan. Apapun alasan yang mendesak. Diriku hanyalah manusia biasa.


Saat berpangku, alam begitu telanjang berpijak di tanah-tanah basah, bukan pula mau berpinta. Soalnya tak bisa diriku hidup tanpa keindahan. Keindahan wajah, keindahan maut, keindahan cinta, dan keindahan umur. Lalu kembali sambil menggoda. Sampai kemanapun kubiarkan langkahku memisahkan. Nafas cintamu akan kembali bertemu nafasku. Bersama menyelesaikan jalan menuju kesana, menuju nirwana…

Sabtu, 20 Desember 2008

UU BHP disahkan, Mahasiswa Meradang

Lagi- lagi ketukan palu ketua DPR bikin panas, belum selesai UU yang lain untuk dikaji ulang seperti contoh (UU LANTAS dan UU Pornografi Pornoaksi, ditambah lgi dengan SKB 4 menteri yang belum jelas maunya apa). Eh, sudah muncul trend baru yakni UU BHP, atau jangan2 sebentar lgi mengenai "UU buang air besar" akan masuk dalam agenda DPR berikutnya" yg akan disertakan dengan pasal2 mengenai buang air besar.

Yang menggelitik bagi saya, DPR layaknya orang yang sedang kecanduan. kecanduan yg dmaksud adalah seringnya DPR mengesahkan Undang-Undang, padahal UU itu dinilai mencoba mengkotak-kotakkan rakyat. Implementasinya belum terlihat jelas, apalagi konkretnya yg tak kunjung datang.

Sejak disahkannya UU BHP beberapa hari lalu, muncullah berbagai aksi untuk menolak itu. Ada pro dan kontra. Elemen yang paling nyata menolak dalam hal ini adalah mahasiswa. Mahasiswa berdemo disana sini menyalurkan aspirasi dengan berbagai cara. Mereka menganggap kalo UU BHP merupakan bentuk liberalisasi dalam sistem pendidikan kita saat, berbagai penilaian dan pendapat bermunculan. UU BHP dianggap akan menjadikan pendidikan akan semakin sulit untuk dijangkau.

Mungkin sudah nasib pendidikan di Indonesia sekarang, karena pasal-pasalnya yang tercantum tidak atau kurang berpihak pada masyarakat kecil,seperti bagaimana nasib anak seorang tukang becak yang kalo masuk PTN harus membayar 1/3 dari biaya pendidikan sedangkan untuk makan saja sudah susah,dan lagi sebelum adanya BHP kan sudah ada lembaga yang katanya diperuntukkan untuk membantu anak2 orang kalangan tidak mampu untuk dapat berkuliah pada kenyataanya malah sebaliknya,dari 100% jumlah bangku kuliah hanya sekitar <30%>