Buka mata, buka hati. Alam tak sekedar inspirator estetika, alam tak hanya untuk dinikmati. Alam ditempatkan sebagai spiritualis dan orientasi ekspresi pemujaan. Bisikannya adalah pelajaran terbaik tentang hakikat diri.
Bukan senja yang tenggelam mengaburkan mataku. Tetapi, bayangan masa silam menatapku tiba-tiba. Dari tepian desa aku menatap dan tersandar ke tebing tak kukenal. Lidah kurasa getir menggigil nafasmu, letih jari-jemari menggenggam kenyataan, kutakkan ingkar artimu padaku. Cahaya terbersit dimataku. Cair dalam pergulatan yang menggetarkan rambut mata. Dalam kenangan yang berhak dikenang. Bila ada saat kemudian berpisah. Bukan karena apa.
Dahaga menagih coklatnya air sungai dan rawa-rawa. Rindu merisau keheningan pepohonan di lereng-lereng. Nafasku ini bertemu nafasmu di rerumpun bambu. Usia kini yang mengantar ke satu titik, bisa merasakan adanya pecahan-pecahan kecil yang bertebaran di kehidupan luas. Sampai di tempat aku bersandar, menatap mesra sambil menerima dengan kedua tanganku. Sudi memilihkan tempat dalam jiwaku dan menyediakan sebait-sebait nyanyian bersahaja.
Usia kini pula yang membawa diriku berpaling, melongok ke satu lorong dimana kesahihan tergapai. Dan menghidupkan romansa insani dalam satu bentuk yang paling sederhana, karena terkubur oleh zaman. Belum semusim berselang lampau, sungai di matanya mengalir kemerahan. Apapun alasan yang mendesak. Diriku hanyalah manusia biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah tanpa menimbulkan provokasi yang bersifat SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan). Apabila itu terjadi, dapat dituntut dengan ancaman pidana seumur hidup dan atau denda sebesar Rp. 1 Triliyun.